What is that…???

Hari ini aku banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa ku jawab sendiri. Perlu waktu dan pengumpulan data yang sangat banyak. Semuanya kadang ku anggap hanyalah realita kehidupan yang mungkin sekarang tidak bisa terhapuskan. Kehidupan seperti ini kah yang aku inginkan. Menjadi orang yang selalu menjadi pihak yang tertuduh, bukti memang ada padaku kenapa dia seperti itu apa ini genetika yang meracuni ataukan sudah tidak adanya pancasila yang dulu katanya sering ku kumandangkan. Melihat semuanya akan menjadi abu mau pun tanah aku terkadang teringat perkataan orang. Jika kau mencari kebahagiaan bukankah itu adalah jalan yang meruncing dan akhirnya tidak menemukan jalan lagi selalin hal itu. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang, mungkin sekali lagi aku akan menjatuhkan diriku kedalam lubang yang sama. Aku tidak ingin jatuh pada lubang yang sama, lebih baik terus tersenyum dan mengamati kehidupan ini. Mungkin aka nada senjata di balik senyum yang menyelidik dan mengendus sebuah rahasia yang terpendam.

Tawaran terakhir yang aku terima adalah menjadi aeni yang dulu, aeni yang selalu sendirian. Aku setuju dengan hal ini tapi aku juga tidak bisa membuat orang lain kaget akan perubahanku yang kelak akan sedingin salju. Aku tidak ingin di anggap sedingin es, karena es itu berwujud keras sementara salju berwujud lembut. Mungkin aku akan menyukai salju di bumi bagian timur. Saljunya lebih bermakna kala menurun bumi yang semakin panas.

Sekarang apakah aku menjadi orang yang akan tersingkirkan lagi, apa aku bisa menahan semuanya dengan tenang tanpa ada isak tangis lagi. Semuanya adalah pertanyaan yang tidak bisa ku jawab sendiri banyak pihak yang menginginkanku tiada. Kerana aku memang sudah tidakpeduli apakah aku ada atau tidak itu bukan masalah bagiku. Masalah ku adalah aku tidak bisa menyerah sebelum aku mencaai semua rencanaku, tentunya semuanya rencana termasuk bagaimana membuatnya jatuh.

Jika memilih jalur hukum aku pasti sudah dianggap orang yang bodoh, gegabah, jahat dan egois.Tapi sebenarnya di dalam kasus ini aku tidak punya pihak yang aku bisa percayai termasuk ayahku. Aku juga tidak yakin apakah aku akan jadi pemenang dalam kasus ini. Ayahku menjamin semuanya akan baik-baik saja tapi ternyata aku hanya korban. Aku menulis ini mungkin aku di anggap lebay atau apalah aku tidak peduli. Aku hanya kebingungan bagaimana membuang batu ini yang membuat aku terjatuh sepanjang hariku. Dia boleh memiliki teman tapi bolehkan dia memiliki yang seharusnya aku miliki bolehkah?.Sementara aku hanya terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa selain nama tuhan, kala aku menderita luka ini. Siapa yang peduli dengan luka ini, siapa yang tahu tangis yang selalu membuatku petang di malam hari. Aku memang tidak pandai dalam melafalkan ayat-ayat suci Al- Qur’an. Aku memang bodoh terhadap agama tapi sebagai orang bodoh dalam agama aku mempunyai pertanyaan kenapa “ orang yang sudah tahu malah mengingkari “ mereka mengatakan jangan pernah menfitnah orang lain karena di larang oleh tuhan.

Pertanyaan lain adalah seberapa hebat dirimu, seberapa kuat dirimu dalam kotak kasus ini yang bisa berubah seperti kumpulan rubik yang terbalik. Aku disini berperan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Jika mungkin ada korban, siapa yang pantas ku korbankan.

            “ Jika aku menyerahkan semua masalah ini pada kepolisian apa yang kau pilih. Bukannya sok tahu tapi kalian hanya punya pilihan yang sempit. Pertama, jika kau mengaku bahwa yang menyebarkan berita miring itu adalah X, maka kau akan mempenjarakan dirinya. Dan jika dia tidak mengakui perbuatannya maka dialah yang mempernjarakanmu….

Apakah pilihan yang sulit, tentunya itu akan mengorbankan orang yang tidak bersalah juga. Semuanya kini hanya penungguan waktu. Semua bukti masih tersimpan pada laptopku yang di bilang hasil pencurian. Jika cerdas pilihlah jalan yang pernah ku bukakan untukmu. Aku mundur karena aku tidak ingin menyusahkan wali kelasku. Kerena aku masih punya rasa kasihan. Tapi jangan harap kali ini akan terulang lagi, pernah terfikir olehmu jika keturunanmu adalah keturunan nara pidana. Tidak pernah terfikirkan olehmu bagaimana perasaan anakmu kelak. Aku yakin kau suatu saat mempunyi keturunan juga. Terlebih kau wanita yang cukup menarik jika dilihat dari luar.

Aku juga wanita, manusia yang masih bernafas dengan oksigen yang bersih, dan aku juga adalah tetanggamu. Jadi fikirkanlah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s