Nyi Hadjar Dewantoro membersihkan dominasi PKI di tubuh Tamansiswa

Nyi Hadjar Dewantoro (NHD) terlahir sebagai RAY Soetartinah Sasraningrat (RAYSS) adalah cucu Sri Paku Alam III dan merupakan sepupu RM Soewardi Soerjaningrat (RMSS) atau Ki Hadjar Dewantoro (KHD). Banyak orang mengenal dan mempelajari pribadi serta konsep-konsep KHD tapi sering lupa atau kurang mengenal siapa sebenarnya NHD.

    RAYSS lahir pada tanggal 14 September 1890 (sama dengan tanggal lahir DR Sumadi Wonohito) dan pada tahun 1907 dipersunting RMSS yang kemudian terpaksa berbulan madu di pengasingan negeri Belanda. Bantuan biaya hidup dari pemerintah kolonial hanya diperuntukkan 1 orang (RMSS) terpaksa dihemat untuk berdua. RMSS harus bekerja sebagai jurnalis (wartawan) dan memperdalam ilmu pendidikan hingga mendapat diploma guna persiapan mendidik bangsanya. RAYSS bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak (Frobel School) guna menunjang kebutuhan hidup sekaligus menabung biaya pulang ke tanah air hingga putri-putranya Ni Soetapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram lahir disana. KHD pernah bercerita untuk menghemat biaya makan sering berbelanja daging jeroan yang harganya murah. Suatu waktu beliau memborong jeroan agak banyak, pemilik toko bertanya apakah anda memelihara banyak anjing?

RAYSS dengan sempurna dapat menjalankan tugas mulia yaitu sebagai pendamping suami dan sebagai pengasuh putra-putrinya. Bahkan setelah tiba di tanah air RAYSS aktif dalam pergerakan wanita antara lain ikut mendirikan PPI/KOWANI. Tahun 1961 NHD mendapat anugerah negara sebagai Perintis Kemerdekaan dan tahun 1968 anugerah Satya Lencana Kebudayaan. Namun yang sangat mengesan di hati RMSS adalah sugestinya dalam memberi api semangat perjuangan RMSS untuk berbakti bagi bangsanya. KHD pernah berujar “ Mungkin saya akan menjadi orang kebanyakan andai isteri saya tidak teguh menyalakan semangat juang saya.”

Tahun 1919 pasangan pendekar bangsa itu baru bisa kembali ke tanah air dan RMSS berkehendak melanjutkan perjuangan melalui forum politik, tetapi RAYSS memberi pengarahan lebih baik mendirikan perguruan nasional yang dapat mencetak kader-kader bangsa lebih banyak. Pada tanggal 3 Juli 1922 RMSS mendirikan Perguruan Nasional (National Onderwijs) Tamansiswa. Tahun 1925 ketika RMSS akan berkeras kembali ke kancah politik, RAYSS menjawab “Silakan kakangmas kembali ke kancah politik, tetapi saya akan tetap menekuni bidang pendidikan anak bangsa di Tamansiswa.” Karena peringatan itu KHD membatalkan niatnya terjun ke kancah politik kembali (makalah Nyi Iman Soedijat).

    Pada tanggal 26 Juni 1959 KHD wafat, kemudian NHD diangkat sebagai Pemimpin Umum Perguruan Tamansiswa dan tahun 1965 dilantik sebagai Rektor Sarjana Wiyata (UST).
Gaya kepemimpinan NHD lemah lembut sebagai pengejawantahan seorang ibu yang penuh asih, asah, asuh, namun pada saat kritis beliau mampu bertindak tegas dan tepat.

Pada tahun 1963 NHD membaca tanda jaman adanya tindakan infiltrasi yang sistematis dari kalangan PKI dimana-mana. Peristiwa Bandar Betsi, Dominasi IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), PGRI, PWI, Parpol bahkan dalam ABRI telah menunjukkan kearah mana strategi PKI saat itu. Hasil Konggres Tamansiswa tahun 1963 terlihat nyata bahwa tubuh Persatuan Tamansiswa telah didominasi oleh kelompok PKI bahkan telah mengangkat Semaun (tokoh komunis internasional, tokoh pemberontak Madiun) sebagai Badan Pembina Persatuan Tamansiswa. Ternyata kemudian dunia baru tahu bahwa semua itu bermuara pada strategi besar rencana G-30-S yaitu menjadikan NKRI sebagai negara komunis dengan mengganti UUD 1945 dan dasar negara Pancasila.

Pada tahun 1964 NHD sebagai Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa mempergunakan hak prerogatifnya membubarkan kepengurusan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa pilihan konggres dan menggantinya dengan anggota-anggota non komunis. Pada saat itu banyak kritikan atas keputusan NHD karena dipandang tidak demokratis, apalagi saat itu PKI menjadi partai terkuat. Namun bila dirunut secara kronologis, pada proses konggres pihak komunis telah melakukan cara-cara tidak demokratis yaitu dengan intimidasi bahkan teror guna mencapai tujuan dominasi PKI di Tamansiswa. Belakangan hari baru orang sadar betapa tepatnya tindakan NHD saat itu membersihkan pejabat yang terafiliasi komunis. Andaikata tindakan itu tidak dilaksanakan, maka Tamansiswa akan didominasi oleh PKI dan tahun 1966 bisa jadi dibubarkan oleh Kopkamtib bentukan Pemerintahan Orde Baru. Ketika NHD memutuskan membubarkan Pimpinan Pusat Persatuan Tamansiswa tahun 1964, maka Tamansiswa dapat kembali kepada azas kebangsaan guna mencapai visi dan misi sesuai ajaran KHD.

NHD memang sosok tamansiswa-is sejati yang melaksanakan “tut wuri handayani” saat berlangsungnya konggres. Pada saat diangkat sebagai Pemimpin Umum Persatuan Tamansiswa NHD aktif membenahi organisasi dengan “ing madyo mangun karso”. Namun pada saat yang dibutuhkan melakukan “ing ngarso sung tulodho” memberi tindakan koreksi tegas untuk menyelamatkan dan meluruskan tujuan organisasi.

    Bahaya latent komunisme memang harus selalu diwaspadai karena ideologi komunis memang dirancang bergerak secara agresif, militan dan taktis. Sejarah mencatat bahwa ideologi yang diciptakan para cendekiawan bisa bertahan sangat lama baik ideologi politik, kenegaraan, religi/mazhab. Eliminasi terhadap salah satu ideologi dalam suatu wilayah jarang yang berhasil sampai benar-benar menghilangkannya. Sepatutnyalah kita waspadai terulangnya pemberontakan Madiun dan G-30-S PKI.

(Ki Priyo Dwiarso anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s