Konsep Ki Hajar Dewantara Bukan Kejawen

Konsep budaya dan pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) banyak mempergunakan istilah bahasa Jawa, sehingga ada yang mengatakan dengan dangkal bahwa konsep KHD berbasis Kejawen. Istilah “kejawen” dalam konteks ini bisa merugikan karena berkonotasi negatif sempit. Memang ajaran KHD banyak menggunakan istilah bahasa Jawa misalnya “tut wuri handayani”, “wiyata griya”, “sistem among”, “ngerti-ngroso-nglakoni”. Bahkan sarasehan Rebo Wagen lebih memperberat konotasi negatif tersebut. Padahal Rebo Wagen diambil KHD dari hari kelahiran Pangeran Diponegoro agar dapat mewarisi api juangnya. Sarasehan Rebo Wagen dapat dilaksanakan pada hari Minggu, Jumat atau lainnya.

KHD mempergunakan istilah dengan bahasa Jawa dengan dua alasan yang reasenable yaitu pertama KHD konsisten dengan konsentrisitas budaya. Budaya (ilmu) universal yang didapat diterapkan dalam praktisi budaya nusantara secara konsentris, yaitu tidak meninggalkan “local wisdom” budaya sendiri. Alasan kedua yaitu pada jamannya (1922) belum ada Sumpah Pemuda dengan lingua franca bahasa Indonesia. Sehingga konsentrisitas budaya tersebut “terpaksa” mempergunakan istilah bahasa Jawa.

KHD mendapat bekal ilmu paedagogie dan mendapat sertifikat mengajar di Negeri Belanda tahun 1915 setelah didorong oleh semangat sang isteri yang mengajar di Frobel School. Bertepatan pula pada masa itu sedang terjadi reformasi pendidikan di Negeri Belanda. Sistem pendidikan yang semula berupa top down satu arah dari sang guru, diubah menjadi mengembangkan talenta sang anak secara pro aktif (tut wuri handayani). Frobel memberikan konsep kemerdekaan bagi sang anak, Maria Montesory mengajarkan cinta lingkungan. Kedua tokoh ini yang kemungkinan besar mengilhami beberapa konsep KHD dalam pendidikan nasional secara konsentris. Bahkan Montesory sempat meninjau perguruan Tamansiswa di Yogyakarta pada pra kemerdekaan.

Sehubungan hal tersebut masuk akallah bila KHD kemudian memberikan konsep ilmu pendidikan dalam istilah bahasa Jawa. Sistem Among terinspirasi dari pendidikan merdeka konsep Frobel dengan pelaksanaan secara “tut wuri handayani” agar sang anak dapat merdeka lahir batin dan tenaganya. Sistem Among melarang adanya hukuman paksaan kepada sang anak karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdekanya. Talenta pribadi anak secara kodrati dimiliki sejak lahir yang harus ditumbuhkembangkan dan pamong/guru bisa handayani/koreksi pembinaan pada tahap tertentu saja. Konsep KHD “ngerti-ngroso-nglakoni” identik dengan “kognitif-afektif-psikomotorik”.

Demikianlah KHD terlebih dahulu mempraktekkan teorinya sebelum melansir ke ranah publik. Misalnya teori Trikon terlebih dulu dipraktekkan sepulang dari negeri Belanda. Secara konvergensi menerapkan ilmu universal yang manfaat bagi kemajuan bangsanya. Secara konsentris mengakar pada budaya sendiri dan semuanya diolah secara kontinyu dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi. Hal ini diilhami oleh pendahulunya para Wali Songo khususnya Sunan Kalijogo yang secara konsentris tidak meninggalkan akar budaya bangsa. Penempatan gamelan di halaman masjid tidak ada duanya di seluruh dunia Islam. Demikian pula tradisi lebaran dengan sungkem, saling memaafkan, mudik, halal bi halal yang semuanya tidak ada di negara Islam yang lain. Dengan piawai para Wali memberi istilah pusaka “Kalimasada” (kalimat syahadat) bagi kaum Pandawa yang gagah berani. Konsentrisitas budaya sangat membantu dalam pembentukan kepribadian nasional bangsa Indonesia, agar bangsa ini pantas berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Bangsa Jepang bisa maju pesat berkat konsentrisitas budayanya dipadukan smangat bushido.

Bahwa KHD tidak fanatik dengan “kejawen” dan bahasa Jawa terbukti pada Kongres Pemuda II tahun 1928, KHD-lah yang pertama melontarkan wacana Bahasa Melayu sebagai Bahasa Indonesia, berseberangan dengan usul yang lain.

Demikan sekilas pemikiran KHD yang jauh dari fanatisme “kejawen” apalagi mengarah kepada sekularisme. Semoga para pembaca semakin memaklumi buah pikiran KHD yang visioner dan dapat diberlakukan sepanjang jaman. Salam.

Ki Priyo Dwiarso, Anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s